原创 不信邪的印尼作家 为新疆真相仗义执言

 点击上方“印尼视角”可订阅哦!

维吾尔族事件的主要经过

与信息失真的印尼脸书网友

原创:德维·西普塔(Dwi Cipta)

翻译:冼文东

国际记者调查协会(ICIJ)和《华尔街日报》报道了新疆维吾尔族集中营的秘密文件泄露事件后,前一周,印尼几个伊斯兰组织对维吾尔族穆斯林的命运保持了沉默。印尼社交媒体上面充斥关于中国西北新疆维吾尔自治区的各种传闻,这是是2018年后脸书上关于维吾尔族新闻的第二波高潮。从印尼最大的宗教组织(伊联和穆联)的高层、新闻记者、学者到普通的民众,纷纷表明他们对维吾尔族事件的看法。

005e3851fc9d9e88f0d58502ac2e6ea2.jpeg

作者德维·西普塔。

我脸书上的好友对此也有各种不同的伊斯兰角度的看法,他们纷纷分享自己的观点。从所谓的中国维吾尔族受到的暴力事件中,我们可以看到印尼穆斯林对国外穆斯林问题关注的程度和承担的风险,以及该事件对国内穆斯林的影响。

4a1001b9eeda1091350b90fc12352b86.jpeg

小说《青年之血》。

本周(19/11/19)约翰·恩蒙特(John Enmont)在《华尔街日报》上面报道怀疑一些伊斯兰组织,例如伊联、穆联和一些学者,因为得到中国的金援而对维吾尔族事件保持沉默。《华尔街日报》对印尼两个最大的穆斯林组织即伊联和穆联的指控到得了国内各种新闻渠道的转发。《华尔街日报》争议性的报道以及提及的组织和相关方面的澄清,引发了关于维吾尔族各种互相矛盾版本的报道出现。

6c7c8ad77f8b3e2486750bc3da40b791.jpeg

签名赠书。

如果仔细观察,会发现多种原因造成脸书上热议维吾尔议题。

首先,西方国家或者与西方国家有关联的媒体传播维吾尔族方面的信息非常迅速。

西方媒体通常是以维吾尔族正在遭受人权、宗教自由甚至分离主义的暴力压迫为宣传框架,众所周知,言论自由、分离主义和人权问题,是西方国家向其他域外国家施加压力的三大武器。

以中国为例,西方国家利用维吾尔族问题,对取得令人震惊经济成就的中国进行遏制,消灭潜在的霸权威胁。

86d8491d374f82cf7e8cabb5f381b688.jpeg

小说封面。

美国和其权力手段是什么呢?是媒体——从外交施压到加强其民权——都很清楚说明维吾尔事件如何变成了与中国关税战之外的另一种武器。

通过操弄维吾尔议题,美国希望能够在与中国的长期关税战中拥有更多的议价能力,在这种背景下,与他们有关联的各种媒体加入了维吾尔事件报道。

第二,印尼某些别有用心的团体,为了自己的政治利益,故意夸大印尼境外穆斯林被压迫问题。

其中之一是某些强硬的伊斯兰团体,他们渴望在印尼实现哈利法立法,他们在刚举行的总统大选的政治斗争中失败后,需要热门话题来加强内部集团团结和获得广大公众的支持。

b363399e72a725a689e18a9466f81002.jpeg

作者在与朋友聊天。

媒体能够迅速获得公众支持的手段之一是报道那些由国家或者非穆斯林占多数的群体对穆斯林的暴力问题,特定的团体在脸书之类的社交媒体上积极的散布那些扭曲的维吾尔族所经历的暴力事件。

大多数分享或者评论新疆维吾尔族状况的网友,对关于中国、关于维吾尔穆斯林的历史和生活、关于新疆自治区维吾尔族之间的伊斯兰教和伊斯兰历史、关于中国政府对新疆穆斯林的生活的看法,或者(维吾尔族对大中华文化圈内对国家、民族或者人民生活的看法)缺乏足够的认识。

不幸的是,因为来自中国的信息不足,事实真相被倾向于对穆斯林同胞的过度同情和怜悯情绪所掩盖。

结果,他们没有互相确认或者核实可值得信赖的信息源,立刻加入指控中国对维吾尔族实施暴力甚至屠杀的行列。

他们不追查新闻和图片来源,不关心是哪个媒体发布的内容,以及其在维吾尔事件中利益所在,不查寻真相,不了解谁在此维吾尔议题中获益,以及他们在脸书上分享新闻对其他人有何影响。

人权、宗教信仰自由和恐怖主义来构架的维吾尔族案件,已经在印尼穆斯林脸书中占据主导地位。

2c293f054abb1fee823741053f004e1b.jpeg

第一本小说出版。

即使中国当局邀请印尼穆斯林组织代表、学者和媒体记者近距离观察维吾尔人的生活,一周前《华尔街日报》仍然出现了指控。

网友从沉默到分享这新闻时候,造成的情况更加复杂,大多数人都在谈论这件事,网友没有其他的像脸书那样的社交平台可供选择使用,没有够与西方媒体或者西方有关媒体不断炒作的能力相匹配。

例如像沙特阿拉伯官方或者土耳其总统埃尔多安对维吾尔事件的直接声明,扭转了新疆再教育培训中心被抹黑成集中营的糟糕形象。

85a7a97b921d1d36659e00739ed88bda.jpeg

脸书充斥假新闻。

安梭尔青年运动(Anshor GP)主席雅库特(Yaqut Cholil Qoumas)表示,推动炒作新疆维吾尔穆斯林被暴力对待,是因为美国对中国的冷战思维逻辑,把战胜中国,赢得其利益的行为隐藏在维吾尔穆斯林被非人道对待的新闻报道中去。

社交媒体如脸书用户,分享所谓的新疆维吾尔族被暴力对待新闻时候,可能没有考虑到不可预测的累计影响。

首先,他们有极大的风险,被那些在全球或者国家层次寻求经济或者政治霸权的有关方面利用。

在这种情况下,他们成为美国邪恶运动的受害者,这个运动试图通过人权和宗教自由问题干涉中国内政。

西方媒体利用冷战思维,通过宗教情感把世界上包括印尼在内的穆斯林束缚在一起,来表达对新疆穆斯林困境的关切,他们成功的做到了这一点,并企图来阻止中国走向世界霸主的地位。同时,由于过度关注新疆穆斯林问题,印尼国内穆斯林个各种问题,实际上被忽略了。

第二,维吾尔族所遭受暴力对待的新闻迅速传播,有可能扩大对中国或者对中国人的不好情绪,无论中国人或者华人都会受到影响。

如果我们看一下印尼的历史,反华情绪是引发社会动荡的诱因,反华情绪可以轻易蔓延到对华人的身上,在上届总统大选中,普拉博沃·苏比安托(Prabowo Subianto)的阵营将其广泛应用。最近一段时间,因为新疆维吾尔族穆斯林的暴力问题酝酿的反华情绪再次成为主流。

考虑到所谓的中国当局涉嫌暴力对待新疆维吾尔族人的信息战风险,使我想到我们没有能力处理自己国家或者社会的如此多的问题。

4ab2a327e9685182aa658a088909aed7.jpeg

签名赠书。

事实上,我们花费大量的时间去分享那些模糊不清却令人感兴趣的信息,却非常头疼的难以解决国内的问题。

非常不幸的是,动动手指比深刻反思问题要快的多,并且,如果别人分享了帖子,你不分享,将被视为缺乏更新,不可靠,信息落伍等等不良标签。分享的信息是否正确不是问题,重要的是看上去是有信息素养人。

并且,赢家或者获利方是那些兜售新闻的人,而分享的人注定是一无所获。

作家简介

作者名叫德维·西普塔,1977年11月1日出生于印尼巨港,在印尼加查马达大学读国际关系学,第一本小说为《青年之血》,于2017年年底出版。短篇小说集《激情》将于2020年1月出版。

除了写作小说与短篇小说集,还出版多篇有关社会、政治和文学方面的文章,为纳迪力因自然资源主权阵线(FNKSDA)活跃作家。

Narasi Dominan Kasus Uighur dan Ketidakmelekan Informasi Pengguna Facebook di Indonesia

Dwi Cipta

Sejak peristiwa bocornya dokumen rahasia yang disebut sebagai “kamp konsentrasi” bangsa Uighur di Xinjiang oleh Konsorsium Jurnalis Investigatif Internasional (ICIJ) dan pemberitaan The Wall Street Journal tentang dugaan dirayunya beberapa organisasi masyarakat islam di Indonesia agar diam terhadap nasib kaum muslim Uighur seminggu lalu, lini masa media sosial di Indonesia dipenuhi dengan berbagai versi kondisi umat muslim Uighur di wilayah otonom Xinjiang, Tiongkok Barat Laut. Ini merupakan gelombang besar kedua setelah ramainya pemberitaan tentang etnis Uighur di media sosial Facebook Indonesia pada 2018 lalu. Tidak tanggung-tanggung, mulai dari para pengurus organisasi keagamaan terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah), jurnalis, akademisi, hingga masyarakat awam memberi klarifikasi atau membuat pernyataan tentang sikap mereka pada kasus Uighur.

Orang-orang yang menjalin pertemanan dengan saya di media sosial Facebook pun memiliki beragam pandangan keislaman berbeda-beda. Mereka membagikan versi mereka sendiri tentang konroversi penindasan bangsa Uighur oleh otoritas China. Dari silang-sengkarut opini tentang dugaan terjadinya kekerasan terhadap etnis Uighur di China ini kita bisa menyaksikan tingkat dan resiko keterserapan perhatian kaum muslim di Indonesia terhadap isu-isu islam di luar negeri dan dampaknya terhadap isu-isu yang dialami umat islam di dalam negeri. 

Kontroversi pemberitaan tentang etnis Uighur pekan-pekan ini bermula dari berita yang ditulis John Enmont di The Wall Street Journal (12/11/19) tentang dugaan beberapa organisasi islam seperti NU dan Muhammadiyah dan sekelompok akademisi di Indonesia menerima bantuan keuangan dari China untuk diam terhadap kasus Uighur. Pemberitaan The Wall Street Journal ini memicu dua organisasi islam terbesar di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah, untuk memberikan konfirmasi tentang dugaan tersebut lewat berbagai kanal berita nasional. Isu kontroversial The Wall Street Journal dan klarifikasi dari organisasi dan pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan inilah yang menjadi pelatuk bagi munculnya berbagai macam versi pemberitaan tentang etnis Uighur yang bertentangan satu sama lain. 

Bila ditelisik lebih seksama, hilir-mudiknya pemberitaan kasus Uighur dan umat islam di Xinjiang di beranda Facebook tentang ini terjadi karena beberapa hal. 

Pertama, derasnya pemberitaan yang berasal dari media-media Barat atau media nasional yang berafiliasi dengan Barat dalam melansir isu penindasan bangsa Uighur. 

Pemberitaan tentang kekerasan yang dialami etnis Uighur dari media-media Barat ini biasanya dibingkai dengan isu hak asasi manusia, kebebasan beragama atau bahkan isu separatisme. Sudah menjadi pengetahuan umum isu-isu kebebasan berpendapat, separatisme dan hak asasi manusia adalah tiga senjata utama negara-negara Barat untuk menekan negara-negara di luar kawasan mereka.

 Dalam kasus China, pemanfaatan isu kekerasan yang dialami etnis Uighur ini dipakai oleh negara-negara Barat bertujuan untuk membendung ancaman hegemoni China di dunia akibat kemajuan ekonominya yang fenomenal. 

Apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan seluruh instrumen kekuasaanya—media, tekanan diplomatik, sampai kekuatan sipil mereka—adalah contoh gamblang bagaimana kasus Uighur menjadi senjata lain di luar perang tariff terhadap produk China.

 Dengan memainkan isu kekerasan etnis Uighur AS berharap punya daya tawar lebih dalam perang tarif yang berlarut-larut dengan China. Latarbelakang inilah yang membuat berbagai jaringan media yang berafiliasi dengan mereka beramai-ramai menaikkan kasus Uighur dalam pemberitaan mereka.

Kedua, adanya kelompok tertentu di Indonesia yang secara sengaja terus menghembuskan isu tentang ketertindasan umat muslim di luar Indonesia demi kepentingan politik mereka sendiri. 

Salah satu dari kelompok masyarakat ini adalah kelompok islam garis keras yang mencita-citakan terwujudnya khilafah islamiyah di Indonesia. Setelah mengalami kekalahan dalam pertarungan politik pada Pemilihan Presiden kemarin, mereka membutuhkan isu-isu popular untuk mengkonsolidasikan dukungan kelompok mereka sendiri maupun masyarakat umum secara lebih luas lagi. 

Salah satu media yang dengan cepat bisa mengkonsolidasikan dukungan publik adalah isu-isu kekerasan yang dialami oleh kaum muslim baik yang dilakukan oleh negara maupun kelompok mayoritas non-muslim. Kelompok inilah yang gencar membagikan kasus kekerasan terhadap etnis Uighur secara sangat distortif di media sosial seperti Facebook.

Ketiga, sebagian besar di antara mereka yang membagikan berita atau bahkan mengomentari keadaan umat muslim Uighur di Xinjiang tersebut tidak memiliki pengetahuan cukup mendalam tentang China/Tiongkok, tentang sejarah dan kehidupan bangsa Uighur, sejarah islam dan keberislaman di antara bangsa Uighur dan di wilayah otonom Xinjiang, cara pandang pemerintah Tiongkok terhadap kehidupan umat islam di Xinjiang dan sebaliknya (cara pandang bangsa uighur terhadap negara dan kehidupan bernegara atau bermasyarakat dalam ruang kultural besar Tiongkok). 

Sayangnya ketidakcukupan informasi dari Tiongkok ini terkubur oleh perasaan solidaritas dan simpati sesama umat muslim yang cenderung berlebihan. 

Akibatnya, tanpa melakukan cross-check atau konfirmasi pada sumber-sumber terpercaya, mereka langsung ikut-ikutan menuduh China telah melakukan kekerasan atau bahkan pembantaian terhadap bangsa Uighur. 

Mereka tidak melakukan pengujian soal sumber berita dan gambar, media mana yang melansir dan apa kepentingannya dalam kasus Uighur, siapa yang diuntungkan dari naiknya isu ini, apa dampak dibagikannya berita itu di beranda Facebook mereka bagi orang atau pihak lain.

Pembingkaian kasus Uighur lewat hak asasi manusia, kebebasan mengekspresikan keyakinan agama dan terorisme ini begitu dominan tersebar di status Facebook umat islam di Indonesia. 

Bahkan ketika otoritas China mengundang perwakilan organisasi muslim dan para akademisi maupun jurnalis di Indonesia untuk menyaksikan kehidupan bangsa Uighur dari dekat, muncul tuduhan seperti yang diberitakan oleh The Wall Street Journal seminggu lalu. 

Keadaan ini makin merepotkan ketika pengguna media sosial yang semula diam kemudian ikut membagikannya akibat sebagian besar orang membicarakannya. Nyaris tidak ada bingkai alternatif yang bisa diakses publik pengguna media sosial seperti Facebook yang bisa menjadi tandingan dari narasi-narasi yang dibangun dengan gencar oleh media Barat atau media yang berafiliasi dengan Barat.

 Pernyataan resmi Arab Saudi atau pernyataan langsung Erdogan sebagai representasi pemerintah Turki tentang kasus Uighur, misalnya, tenggelam dengan pendistorsian Pusat Pendidikan dan Latihan Kerja di Xinjiang sebagai ‘kamp konsentrasi yang mengerikan. 

Pernyataan Ketua GP Anshor, Yaqut Cholil Qoumas, bahwa pemberitaan tentang kekerasan umat Muslim Uighur adalah didorong karena kepentingan AS dalam logika Perang Dingin dengan Tiongkok untuk memenangkan kepentingannya tenggelam oleh pemberitaan penyiksaan kaum muslim Uighur yang tidak manusiawi.

Para pengguna media sosial seperti Facebook yang membagikan kasus dugaan kekerasan terhadap bangsa Uighur di Xinjiang ini mungkin tidak memperhitungkan efek kumulatif yang tidak bisa diperkirakan.

 

Pertama, mereka beresiko besar dimanfaatkan pihak-pihak yang sedang melakukan perebutan hegemoni ekonomi-politik baik di tingkatan global maupun nasional. 

Dalam hal ini mereka menjadi korban dari kampanye jahat Amerika Serikat yang berusaha mencampuri persoalan dalam negeri Tiongkok lewat isu-isu hak asasi manusia dan kebebasan beragama. 

Logika Perang Dingin yang dipakai media Barat demi membendung jalan China membangun hegemoni baru di dunia internasional dengan memanfaatkan sentimen keagamaan yang mengikat sesama kaum muslim di dunia, termasuk di Indonesia, untuk ikut bersuara terhadap nasib kaum muslim di Xinjiang berhasil mereka jalankan. Pada saat yang sama, berbagai persoalan kaum muslim di dalam negeri Indonesia justru terabaikan karena derasnya pemberitaan tentang nasib kaum muslim di Xinjiang.

Kedua, derasnya pemberitaan tentang kekerasan yang dialami oleh bangsa Uighur ini berpotensi memperbesar sentimen terhadap negara dan sentimen orang-orang China, baik yang totok maupun keturunannya. 

Bila kita berkaca pada perjalanan sejarah Indonesia, sentiment anti-China ini bisa menjadi pelatuk yang memudahkan terjadinya kerusuhan sosial. Sentimen anti-China yang merembet ke sentiment terhadap etnis Tionghoa ini memang telah begitu mengemuka sejak  ini telah dieksploitasi habis-habisan oleh kubu Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden lalu. Setelah sempat menurun selama beberapa waktu, sentimen anti-China tersebut kembali diarus-utamakan lewat isu kekerasan terhadap umat muslim Uighur di Xinjiang. 

Memikirkan rangkaian dari resiko perang informasi tentang dugaan kekerasan bangsa Uighur dan Xinjiang oleh otoritas China ini membuat saya berpikir betapa kita tidak mampu mengurus masalah diri dan masyarakat atau negara kita sendiri yang seabrek.

 Alih-alih mengurus masalah dalam negeri yang sangat memusingkan, kita justru menghabiskan banyak waktu untuk membagikan informasi yang masih samar-samar dan penuh kepentingan. 

Dan sayangnya lagi, gerakan jari seringkali lebih cepat dibandingkan perenungan mendalam sebuah persoalan sebelum menentukan sikap. Apalagi orang-orang sudah ikut membagikan. Kalau tidak membagikan akan dianggap kurang update, tidak solider, ketinggalan informasi, dan cap-cap buruk lainnya. Urusan benar dan tidak jadi urusan belakangan. Yang penting tampak melek informasi.

Dan yang menang atau menanggung keuntungan selalu yang berjualan berita atau berjualan isu. Yang membagikannya tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.

Dwi Cipta

Novelis dan esais untuk isu-isu sosial-politik

ab0fb394ac9d7110d4c480d8890a00df.jpeg

如果您喜欢这篇文章,请点击“在看”

发表评论

电子邮件地址不会被公开。